Rela Menolong dan Tabah: Fondasi Pendidikan Karakter dalam Membangun Generasi Unggul, Berempati, dan Berdaya Tangguh
- account_circle Rifyal Lutfi MR
- calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tasikzone.co.id – Rela menolong dan tabah merupakan dua nilai luhur dalam Dasa Darma Pramuka yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik.
Rela menolong berarti memiliki kepedulian dan keikhlasan untuk membantu siapa pun yang membutuhkan tanpa mengharapkan balasan, sedangkan tabah adalah sikap tetap sabar, kuat, dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai kesulitan, tantangan, maupun kegagalan. Kedua nilai ini menjadi landasan penting dalam menumbuhkan pribadi yang peduli, tangguh, bertanggung jawab, serta mampu menghadapi berbagai dinamika kehidupan dengan semangat dan optimisme.
Dari pengertian tersebut bahwa rela juga bisa berarti menerima sesuatu karena tidak ada pilihan lain, namun lebih dari pada itu kita mesti meningkatkan dari kerelaan menjadi keikhlasan. keihlkasan itu adalah menerima dengan lapang dada dan hati yang ridha, tanpa paksaan atau penyesalan semua hanya karena Allah swt. Inilah konsep dari ajaran islam yakni segala sesuatu apapun itu dikerjakan dengan penuh keikhlasan, karena hanya keikhlasanlah amal akan diterima oleh Allah swt. Sebagaimana firmannya dalam Qs. Al Bayyinah : 5
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).”
Dan sabda rasulullah saw:
إِنَّ الله َتَعَالٰى لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا (رواه النسائي عن أبي أمامة)
“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali dikerjakan dengan ikhlas untuk (memperoleh rida)-Nya.” (Riwayat an-Nasa′i dari Abu Umamah)
Keikhlasan adalah syarat utama diterimanya setiap amal ibadah. Karena itu, setiap kebaikan hendaknya dilakukan semata-mata untuk mengharap ridha Allah, bukan karena ingin dipuji atau memperoleh balasan. Kesadaran untuk berbuat secara sukarela menjadi langkah awal dalam menumbuhkan keikhlasan. Ketika seseorang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya demi membantu orang lain, ia sedang membangun sikap ikhlas dalam dirinya. Keikhlasan inilah yang menjadi dasar lahirnya kepedulian, pengabdian, dan manfaat bagi sesama. Selain memiliki sikap rela menolong, setiap orang juga perlu memiliki sifat tabah. Ketabahan membuat seseorang tetap sabar, kuat, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi berbagai kesulitan, sehingga mampu menjalani kehidupan dengan penuh semangat dan optimisme.
Dalam persfektif islam bahwa salah satu bukti dari seorang yang memiliki akhlak mulia adalah senantiasa bersikap tabah dan sabar dalam menghadapi berbagai hal yang dijumpainya. Kesabaran dan ketabahan biasanya terletak pada kemampuan yang dimiliki seseorang dalam menahan diri baik dari sesuatu yang disenangi ataupun yang dibenci.
Menahan diri dari yang disukai, maksudnya apabila kita memperoleh karunia dan rahmat yang menyenangkan, hendaklah kita bersikap sabar sehingga tidak terjebak dalam tindakan yang berlebihan atau berfoya-foya.
Menahan diri dalam hal yang tidak kita sukai, maksudnya adalah bersikap sabar sehingga bisa menghadapi masalah itu dengan baik, dan sama sekali tidak terjerembab dalam sikap yang putus asa.
Selanjutnya kesabaran itu dapat dibagi menjadi empat bagian: (1) Bersabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, melaksanakan segala perintahnya dan mengikuti segala petunjuk-Nya. (2) Sabar atau tabah dalam meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT dalam rangka menjauhi segala perbuatan yang tercela yang tidak diridhoi oleh-Nya. (3) Sabar dan tabah dalam menerima karunia dan Rahmat dari Allah Swt. Dengan demikian kita akan memanfaatkan karunia dan rahmat dari Allah itu untuk melaksanakan kebajikan dan tidak menggunakannya secara boros dan berlebihan. (4) Bersikap tabah dan sabar dalam menghadapi berbagai macam musibah.
Bersabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Hal ini dalam penerapannya adalah bagaimanapun aktivitas kita harus dijadikan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah. Mengikuti kegiatan, pelatihan, apapun bentuknya maka niatkan karena Allah kemudian bersabar dan tidak tergesa-gesa.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ࣖ
“Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu dan tetaplah Bersiap siaga serta bertaqwalah kepada Allah agar kamu meraih kesuksesan”. (QS. Ali Imran 3:200)”
Sampaikanlah berita gembira bagi orang-orang yang tabah dan sabar, yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah mengucapkan “sesungguhnya kami berasal dari Allah dan kepada-Nyalah kami Kembali. firmanNya:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. Al Baqorah: 155-157)
Ketabahan dan kesabaran akan mengantarkan seseorang pada kesucian pribadinya. Ia selalu merasa cukup dengan karunia yang ada, hatinya memperoleh ketenangan dan ketentraman. Siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bersabar dalam menghadapi berbagai hal dari kehidupannya, ia akan menjadi orang yang kuat dan tangguh dalam mengarungi kehidupannya. Tidak ada karunia dan Rahmat yang lebih agung yang melebihi ketabahan dan kesabaran.
Kita wajib mengimplementasikan sifat tersebut sebagai bukti nyata bahwa sabar dan tabah saling bergandengan untuk dijadikan sebagai rujukan yang berdampak merubah pola sikap dan pola pikir bagi setiap manusia.
Janganlah terlalu sering mengeluh, karena keluhan memperlihatkan kelemahanmu.
Nikmati, syukuri dan ikhlas tanpa batas” (***)
- Penulis: Rifyal Lutfi MR











