EKOTEOLOGI DALAM AKSI: JAGA BUMI, TEBAR EMPATI
- account_circle Rian Sutisna
- calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Rifyal Luthfi MR
Tasikzone.co.id – Mengawali tulisan ini ingatkah kita dengan fenomana-fenomena alam yang semakin hari mengkhawatirkan dengan berbagai dampak kerusakan yang terjadi dimuka bumi yang diakibatkan oleh ulah tangan manusia sendiri?
Tentunnya fenomana tersebut adalah sunatullah dari ketentuan yang Allah tetapkan bahwa dunia ini adalah fana. Namun dalam implementasinya kita sebagai pengguna alam tentu harus bisa menjaga sebaik baiknya amanah yang besar tersebut. Oleh karenanya dalam setiap aktivitas dimanapun hendaknya disertai dengan nilai-nilai spiritual melalui perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah (alam ciptaan Allah).
Sabda Rasulullah Saw.:
تَفَكَّرُوْا فِي خَلْقِ الله وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِي اللهِ
“Berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah” (HR. Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas)
Kehidupan kita di alam ini adalah salah satunya untuk bertafakur yang merupakan bagian dari ibadah, melalui impelmantasi dengan tetap menjaga kelestarian alam dan tidak merusak habitatnya. Dengan hal tersebut, kita belajar dari alam sekaligus menebarkan kebaikan dan memberikan manfaat bagi sesama makhluk di sekitarnya. Sebagai Implementasinya seagai berikut:
Menginjakkan kaki di bumi Allah maka jangan bersikap sombong.
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ
“Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (Qs. Lukman 18)
Apa yang perlu disombongkan, sedangkan semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah dan segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya. Bahkan Allah ingatkan dalam firmanya:
وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗوَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ ࣖ
“Milik Allah lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.” (Qs. Al Imran: 109)
Kemudian melalui kekuatan dan kehendak Allah lah kita bisa berbuat, begitupun Allah ingatkan dalam firmannya:
وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.” (Qs. An-nahl: 78)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa keberadaan dan kemampuan manusia semuanya berasal dari Allah. Karena itu, kalimat hauqalah (laa hawla walaa quwwata illa billah) menjadi pengingat bahwa tidak ada daya dan kekuatan selain atas pertolongan Allah Swt.
Dalam kitab Al Hikam, hikmah ke 107 dan 108, Imam Ibn Atho’illah as Sakandary menuliskan:
نِعْمَتاَنِ ماَ خَرَجَ موْجُودٌ عَنْهاَ ولاَ بُدَّ لِكُلِّ مُكـَوِّنٍ مِنْهُما نِعْمةُ الاِيْجادِ وَنِعْمة ُالاِمْداَد
“Ada dua nikmat yang tidak ada satu makhlukpun terlepas dari keduanya, yaitu nikmat ciptaan (diwujudkan) dan nikmat kelanjutan”
Nikmat ijad adalah nikmat kehidupan yang Allah berikan kepada manusia. Banyak orang yang muda, sehat, kaya, dan memiliki kedudukan tinggi, namun Allah menakdirkan mereka wafat lebih dahulu. Sebaliknya, ada orang yang sakit dan rutin berobat, tetapi masih diberi kesempatan menikmati hidup.
Adapun nikmat imdad adalah nikmat berupa fasilitas hidup, seperti mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, mulut untuk berbicara, dan seluruh anggota tubuh dengan fungsinya masing-masing. Semua itu merupakan karunia Allah yang wajib disyukuri dan digunakan dengan sebaik-baiknya.
Jadi apa yang disombongkan dalam diri kita?
Disebut kriteria sombong karena salah satunya adalah karena tidak mengingat Allah, oleh sebab itu jika melakukan pengembaraan, penjelajahan atau hanya sekedar berjalan biasa saja maka harus banyak mengingat Allah. Dengan begitu kita tidak termasuk orang sombong, bahkan Allah akan memberikan ketenangan dalam hati kita. Sesuai dengan firmanNya:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. 13. Ar-Ra’d: 28)
Mengingat Allah melalui lisan dan hati kita dengan kalimat thoyyibah seperti Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar, Laa ilaaha illallah. Amalkanlah dan lafalkanlah dalam setiap gerak langkah kaki kita, berlari, berjalan, duduk, bahkan dalam keadaan berbaring pun kita tetap mengingat-Nya. Dengan seperti itu maka hati dan jiwa kita akan tenang, sehingga terpilih menjadi hamba-Nya yang bertakwa.
Kecintaan terhadap diri, alam dan lingkungan termasuk makhluk-makhluk ciptaa-Nya yang ada di alam itulah tugas selanjutnya. Kita berusaha semaksimal mungkin menjaga hubungan baik dengan mereka, karena semua itu adalah ciptaan-NYa dan hidup atas kehendakNya serta dengan menggunakan akal jadikan sebagai bahan renungan dan tafakur kita dibumi ini. Hal ini dapat diimplementasikan melalui: berbuat baik kepada sesama makhluk Allah melalui Ta`aruf, tafahum, ta`awun dan takaful.
Konsep taaruf adalah bagaiman kita mengenal makhluk yang Allah ciptakan melalui akal fikiran atas penciptaanNya sehingga kita bisa mengetahui bahwa ciptaan yang luar biasa dari yang Allah ciptakan bukan hanya alam semesta, bumi, langit dan segala yang ada diangkasa dan dibumi namun penciptaan Allah yang luar biasa adalah diri kita, maka kenalilah diri kita siapa dan dari mana asal muasalnya?, diciptakan untuk apa?, dan nanti akan kemana?.
Mari Kita kenali diri kita :
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah.” (Qs. Al Mu`min:12)
Dari keterangan di atas ternyata kita tercipta pada hakikatnya dari tanah, meskipun penciptaannya dari unsur tanah, namun penciptaan ini adalah pencitaan yang sempurna luar biasa yang Allah tegaskan melalui firmannNya:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
“ sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Qs. At-Tin:4)
Kelebihan diri kita dari semua makhluk yang Allah ciptakan adalah diberikan akal/hati dalam diri kita sehingga melalui akal tersebut manusia bisa memilah-milih mana yang haq dan mana yang bathil. Sehingga mempunyai kecerdasan pengetahuan/kelimuan lebih dari makhluk yang lainnya termasuk malaikat. Itulah hakikat kita yang diciptakan sebagai sosok manusia.
Selanjutnya kita diciptakan tujuannya untuk apa ?
Allah swt dalam firmanNya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
”(Qs. Az-Zariyat:56).
Inilah tugas kita di muka bumi yakni beribadah kepada Allah, baik dalam bentuk ibadah mahdhoh (langsung) maupun ghoir mahdoh (tidak langsung) yakni melalui berinteraksi dengan sesama makhluk Allah (muamalah).
Contoh ibadah langsung yakni melalui sholat, dzikir, puasa dan yang lainnya. Sedangkan ibadah ghoir mahdhoh yakni melalui interaksi dengan sesama makhluk Allah, saling memberi, saling menjaga, saling membela, saling menghormati serta saling menyanyangi berlandaskan Lillahi ta`ala (karena Allah). Jika kita meniatkan ibadah serta memahami konsep dan cara beribadah secara kaffah (menyeluruh) baik mahdhoh maupun ghoir mahdhoh, maka seluruh aktivitas kita akan berlabuh pada satu tujuan yaitu Ridho Allah. Sebagaimana firmanNya:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-An`am:162)
Dari ayat di atas jelaslah perintah serta anjuran yang disampaikan adalah apapun aktivitas kita agar menjadi nilai ibadah maka niatkan dengan niat beribadah kepada Allah swt.
Sebagaimana sabda Nabi saw:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya Amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya (HR.Al-Buchori dan Muslim)
Dalam setiap kegiatan apapun bentuknya harus tetap mengintegrasikan dengan nilai-nilai spiritual keislaman sehingga konsep ketauhidan akan selalu tersisipkan di dalamnya sehingga menjadi nilai ibadah yang Allah Ridhoi.
Akan kemana kita?
Inilah tahapan yang kadang kita selalu tidak menyadarinya sehingga sering terlupakan dan akan tersadarkan ketika kita sudah diruangan 1 x 2 meter di kedalaman kurang lebih 2 meter di dalam tanah, yakni kematian. Jika pertanyaan akan kemana kita, maka kita akan kembali lagi ke tanah sesuai dengan hakikat kita. Allah mengingatkan melalui Firman-Nya :
مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرٰى
“Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain.” (Qs. Taha:55)
Ayat di atas mengingatkan bahwa kita akan Kembali lagi ke tanah sesuai dengan penciptaannya. Oleh karenanya kesadaran untuk kembali ke tanah penciptaan kita merupakan sebuah keniscayaan atau keharusan bagi diri kita agar dalam berkehidupan di bumi ini berusaha untuk tidak salah dalam melangkah dan selalu berpegang taguh pada nilai-nilai keimanan serta keikhlasan dalam menjalaninya. Sehingga ketika dihadapan Allah kelak kita tidak malu atas apa yang kita lakukan selama di dunia ini.
Konsep tafahum adalah bagaimana kita memahami seluruh karakteristik makhluk yang Allah ciptakan termasuk kita di dalamnya. Konsep ini menjadikan diri kita harus faham terhadap berkehidupan sesama makhluk, mengerti akan keadaan dan kondisinya, memahami sifatnya dan memahami bagaimana kehendak atau keinginannya.
Sesama manusia tentunya dalam hal ini harus selalu memahami karakter dan sifatnya sehingga miss komunikasi atau kesalahfahaman akan bisa diselesaikan dengan mudah.seperti memahami karakter saudara kita baik secara kaadaannnya maupun latar belakang keluargananya. Begitupun dengan memahami makhluk lain bernama JIN, mereka adalah makhluk yang Allah perintahkan juga untuk beribadah. Bangsa JIN ini makhluk pertama yang Allah izinkan menjadi penghuni bumi. Riwayat ini disampaikan dalam kitab Al Bidayah An-nihayah karya Ibnu katsir. Mereka berbuat kerusakan di muka bumi sehingga dibantai oleh para malaikat atas perintah Allah dan disisakan hanya sedikit yakni mereka yang melarikan diri ke laut, gunung, dan lainnya. Setelah sekian lama, mereka beranak pinang dan sangat banyak di bumi sekarang ini. Memahami keberadaannya, memahami sifat dan karakternya merupakan keharusan bagi diri kita.
Makhluk selanjutnya yang harus kita fahami sifat dan karakternya adalah tumbuhan dan hewan. Mereka juga makhluk ciptaan Allah yang keberadaannya harus kita jaga serta melestarikan dan kita puji Allah atas keberadaan serta penciptaan mereka yang banyak membawa pelajaran (Ibrah) dalam kehidupan kita. Bahkan mereka sering bertasbih kepada-NYa. Hal ini sebagiamana firmanNYa:
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
“Apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Al Hadid:1)
Ternyata selama ini kita belum sadar bahwa tanah, pohon, air, bebatuan dan seluruh makhluk di bumi tersebut sering bertasbih kepada Allah. Masya Allah
Maka dari itu menghormati, menjaga dan memahami serta menyayangi mereka merupakan nilai ibadah yang luar biasa pahalanya. Jika hal itu dilakukan oleh kita niscaya penghuni langit akan menyayangi kita pula. Bagi kita sebagai Kita tentunya harus menjaga dan melestarikannya, bahkan bergeul dengan mereka artinya berakhlak baik dengan mereka sehingga persahabatan dengan alam akan terjaga dengan baik. Jika tidak seperti itu maka sebagimana disampaikan sebuah ayat dalam al quran :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs. Ar-Rum:41)
Tidak menyalahkan siapapun dan jangan menyalahkan siapapun termasuk menyalahkan taqdir yang telah Allah tentukan, karena hal tersebut sudah sangat jelas diakibatkan oleh ulah tangan manusia, sehingga nampak sekali sekarang dampaknya dirasakan seperti gempa bumi, banjir, gunung meletus dan wabah penyakit sebagianya.
Hal ini juga ditujukan oleh syair lagu yang dibawakan oleh Ebiet G. Ade sehingga menjadi ibarah (pelajararan bagi kita) :
“Barangkali disana ada jawabnya….
Mengapa ditanahku terjadi bencana…
Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita…Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, Atau alam mulai enggan…bersahabat dengan kita…
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…..
Ya bagitulah bait dari syair yang mengingatkan kita akan dampak dari kekacauan yang dilakukan manusia di bumi ini yang mengakibatkan kerusakan dimana-mana. Oleh karna itu saling memahami sesama makhkuk Allah sangat penting demi untuk kemaslahatan dan kemanfaatan bersama, mari jaga bersama amanah yang telah Allah berikan kepada kita melalui kebaikan serta amal sholeh dari hari kehari.
Hasbunallah wani`mal wakil
- Penulis: Rian Sutisna

