GMNU Kota Tasikmalaya Tagih Realisasi Hasil Rakernas APEKSI 2026
- account_circle Rian Sutisna
- calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tasikzone.co.id – Ketua Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Kota Tasikmalaya, Myftah Farid, S.IP., menagih realisasi hasil keikutsertaan Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APEKSI XVIII yang digelar di Kota Medan.
Menurutnya, kehadiran jajaran Pemkot Tasikmalaya dalam forum nasional tersebut harus mampu menghasilkan program dan kebijakan yang berdampak langsung bagi masyarakat, bukan sekadar agenda seremonial atau studi banding semata.
“Keikutsertaan dalam Rakernas APEKSI tentu membutuhkan anggaran, waktu, dan energi yang tidak sedikit. Karena itu masyarakat berhak mengetahui manfaat konkret yang dibawa pulang oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya,” kata Myftah Farid kepada wartawan, Senin (6/7/2026).
Ia menilai, masyarakat tidak lagi membutuhkan laporan normatif mengenai keikutsertaan pemerintah dalam forum nasional. Publik, kata dia, menunggu implementasi nyata dari berbagai gagasan, inovasi, dan kerja sama yang diperoleh selama kegiatan berlangsung.
Salah satu hal yang perlu segera disampaikan kepada masyarakat adalah tindak lanjut terkait peluang pembiayaan pembangunan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Menurut Myftah Farid, Pemkot Tasikmalaya perlu memaparkan secara terbuka proyek infrastruktur maupun layanan publik yang berpotensi dibiayai melalui skema tersebut.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada APBD yang terbatas. Jika memang ada peluang pembiayaan melalui KPBU yang dipelajari dari daerah lain, masyarakat perlu mengetahui proyek apa saja yang akan dikembangkan,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mendorong optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui digitalisasi pajak dan retribusi daerah. Menurutnya, sejumlah kota peserta APEKSI telah berhasil menerapkan sistem digital untuk meminimalkan kebocoran pendapatan dari sektor pasar, parkir, hotel, restoran, kafe, hingga tempat hiburan.
“Digitalisasi harus menjadi langkah serius untuk meningkatkan PAD. Target peningkatan pendapatan daerah juga harus terukur dan bisa dievaluasi,” katanya.
Myftah juga menyoroti persoalan pengelolaan sampah yang hingga kini masih menjadi tantangan bagi Kota Tasikmalaya.
Ia berharap berbagai inovasi yang diperoleh dari Rakernas APEKSI dapat diterjemahkan ke dalam program nyata yang mampu memperkuat tata kelola sampah secara berkelanjutan.
Menurutnya, pemerintah perlu menyusun kebijakan yang mampu mendorong pengurangan sampah dari tingkat rumah tangga sekaligus mengadopsi teknologi pengolahan sampah yang lebih modern.
“Jangan sampai transfer pengetahuan dari forum nasional hanya berhenti menjadi wacana. Harus ada program yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tegasnya.
Selain isu fiskal dan lingkungan, ia juga menyoroti peluang pengembangan ketahanan pangan perkotaan melalui budidaya microgreen yang banyak diperkenalkan dalam forum tersebut.
Ia menilai konsep pertanian perkotaan tersebut sangat relevan diterapkan di Kota Tasikmalaya yang memiliki keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan.
“Microgreen bisa menjadi solusi ketahanan pangan sekaligus peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Pemerintah bisa mendorong implementasinya melalui sekolah, kelompok wanita tani, komunitas pemuda, maupun pelaku UMKM,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Myftah menegaskan bahwa seluruh delegasi yang mengikuti forum pendukung Rakernas APEKSI, mulai dari Forum Bisnis, Forum Pangan hingga Forum Lingkungan Hidup, harus mampu menerjemahkan hasil diskusi menjadi program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Ia mencontohkan peluang perluasan pasar bagi produk unggulan Tasikmalaya seperti bordir dan kerajinan mendong yang seharusnya dapat diperkuat melalui jejaring yang terbangun selama kegiatan berlangsung.
“Keberhasilan mengikuti Rakernas APEKSI tidak diukur dari banyaknya forum yang dihadiri atau dokumentasi kegiatan yang dipublikasikan. Yang paling penting adalah sejauh mana hasil forum tersebut dapat diwujudkan menjadi kebijakan dan program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. (***)
- Penulis: Rian Sutisna

