Kekeringan di Bojonggambir, Ratusan Warga Andalkan Air dari Masjid
- account_circle Rian Sutisna
- calendar_month Senin, 29 Jun 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tasikzone.co.id – Ratusan warga di Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, mengandalkan pasokan air bersih dari Masjid Jami Al Ihsan setelah sumur-sumur warga mengering akibat musim kemarau.
Sejak Minggu (28/6/2026) pagi, warga dari Dusun Cipari dan Dusun Cipatat terlihat mengantre dengan membawa jeriken dan galon untuk mendapatkan air bersih dari penampungan masjid.
Warga Dusun Cipari, Dedeh Rohayati, mengatakan sumur miliknya mulai mengering sejak akhir April lalu. Kondisi tersebut memaksanya mengambil air ke masjid setiap hari untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Biasanya menggali sumur sedalam tiga meter sudah keluar air. Sekarang sampai 10 meter pun tidak ada air, sehingga kami mengambil air ke masjid,” katanya.
Hal serupa disampaikan Yayah. Menurutnya, sumber air yang selama ini digunakan warga sudah tidak lagi mencukupi, sementara aliran air yang masih tersedia hanya masuk ke penampungan masjid.
“Sumur di rumah sudah kering. Sekarang warga mengambil air ke masjid setiap pagi dan sore,” ujarnya.
Ketua DKM Masjid Jami Al Ihsan, Uun Suhendar, mengatakan pihaknya tetap mengizinkan warga mengambil air dari masjid karena kebutuhan masyarakat yang mendesak. Namun, pengambilan air dihentikan 10 menit sebelum adzan untuk memastikan ketersediaan air bagi jamaah yang akan berwudu.
“Kami tetap membuka akses air untuk masyarakat. Hanya saja menjelang waktu salat, pengambilan air dihentikan agar kebutuhan wudu jamaah tetap terpenuhi,” kata Uun.
Ia menambahkan, saat ini tidak ada sumber air lain yang mudah dijangkau warga sehingga masjid menjadi satu-satunya titik pengambilan air bersih.
Kepala Desa Kertanegla, Bunyamin, menyebut sekitar 600 hingga 700 kepala keluarga terdampak kekeringan yang terjadi di Dusun Cipari dan Dusun Cipatat.
“Ada dua dusun yang terdampak kekeringan dengan sekitar 600 kepala keluarga. Saat ini sumber air yang masih tersedia hanya yang disalurkan ke masjid sehingga warga harus mengantre dan pengambilannya dibatasi,” ujarnya.
Untuk memastikan distribusi air merata, setiap keluarga dibatasi mengambil dua hingga tiga jeriken air per hari.
Pemerintah Desa Kertanegla telah melaporkan kondisi tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan berharap segera mendapatkan bantuan pasokan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Selain bantuan darurat, pemerintah desa juga mengusulkan pembangunan sumur bor sebagai solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis air bersih yang rutin terjadi setiap musim kemarau.
Hingga akhir Juni, warga masih mengandalkan pasokan air dari Masjid Jami Al Ihsan sambil menunggu bantuan dan solusi permanen dari pemerintah. (***)
- Penulis: Rian Sutisna

