Breaking News
light_mode
Beranda » News » Kemenag Perkuat Peran KUA dalam Deteksi Dini Konflik Sosial Keagamaan di Jawa Barat

Kemenag Perkuat Peran KUA dalam Deteksi Dini Konflik Sosial Keagamaan di Jawa Barat

  • account_circle Rian Sutisna
  • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tasikzone.co.id – Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar kegiatan Early Warning System (EWS) atau Sistem Kewaspadaan Dini di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (24/6/2026).

Kegiatan ini diikuti ribuan penghulu dan penyuluh Kantor Urusan Agama (KUA) se-Jawa Barat secara daring.

Program yang diinisiasi oleh kepala seksi bimas islam bersinergi dengan Kementerian Agama RI tersebut bertujuan memperkuat kapasitas penghulu dan penyuluh agama dalam mendeteksi serta memitigasi potensi konflik sosial yang berdimensi keagamaan di tengah masyarakat.

Hadir sebagai narasumber utama Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama RI, Dr. H. Arsad Hidayat, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, Asep Barhia.

Plt Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Tasikmalaya, Asep Barhia, mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kewaspadaan para penghulu dan penyuluh agama terhadap berbagai potensi konflik yang dapat muncul akibat perbedaan pemahaman maupun keberagaman sosial di masyarakat.

Menurutnya, Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat keberagaman yang tinggi. Kondisi tersebut menjadi modal sosial yang kuat apabila dikelola dengan baik, namun berpotensi memunculkan gesekan apabila tidak dirawat secara bijak.

“Keberagaman merupakan kekuatan dan modal sosial yang harus dijaga bersama. Jika tidak dirawat dengan baik, perbedaan bisa menjadi pemicu munculnya konflik. Karena itu, kegiatan ini penting agar para penghulu dan penyuluh memahami langkah-langkah mitigasi serta pencegahan terhadap berbagai persoalan sosial keagamaan,” ujar Asep Barhia.

Ia menjelaskan, kegiatan Early Warning System merupakan program nasional yang dilaksanakan serentak di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat.

Melalui program ini, para penghulu dan penyuluh diharapkan mampu mengidentifikasi gejala awal potensi konflik sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan lebih cepat.

“Tujuan kegiatan ini adalah membangun sistem deteksi dini terhadap berbagai potensi konflik sosial keagamaan. Jika potensi tersebut dapat dikenali sejak awal, maka upaya mitigasi dan penyelesaian bisa dilakukan sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar,” katanya.

Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag RI, Dr. H. Arsad Hidayat, menekankan pentingnya peran Kepala KUA dan penyuluh agama sebagai garda terdepan dalam menjaga kerukunan umat beragama di wilayah masing-masing.

Ia meminta para Kepala KUA untuk aktif melakukan pemantauan terhadap dinamika sosial keagamaan yang berkembang di tingkat desa dan kecamatan.

“Para Kepala KUA harus menjaga dengan baik hubungan antarumat maupun intraumat beragama. Lakukan monitoring secara rutin terhadap perkembangan yang terjadi di masyarakat. Itulah yang dimaksud dengan sistem kewaspadaan dini, yaitu melakukan pemantauan dan deteksi sejak awal terhadap berbagai potensi persoalan,” tegas Arsad.

Secara khusus, Arsad juga mengingatkan jajaran KUA di Kabupaten Tasikmalaya untuk terus meningkatkan koordinasi dan pemantauan terhadap kondisi sosial keagamaan di wilayah kerjanya.

“Kepada para Kepala KUA di Tasikmalaya, saya minta untuk aktif memantau dinamika yang berkembang di desa-desa sehingga potensi konflik dapat dicegah sejak dini,” pungkasnya.

Sementara itu, kasi bimas Islam Dr. Akhmad Buhaiti berharap Kegiatan ini dapat meningkatkan sinergitas dengan pemerintah daerah dalam penguatan peran penghulu dan penyuluh di Kabupaten Tasikmalaya

Kementerian Agama RI menggelar Early Warning System di Tasikmalaya yang diikuti ribuan penghulu dan penyuluh KUA se-Jawa Barat untuk memperkuat deteksi dini dan pencegahan konflik sosial keagamaan (***)

  • Penulis: Rian Sutisna

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less