Breaking News
light_mode
Beranda » Eksis » Rajin, Terampil, dan Gembira : Jalan Menuju keberkahan seorang Insan pilihan

Rajin, Terampil, dan Gembira : Jalan Menuju keberkahan seorang Insan pilihan

  • account_circle Rian Sutisna
  • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Rifyal Luthfi MR

Tasikzone.co.id – Dalam kehidupan, menjadi insan yang baik tidak cukup hanya dengan memiliki ilmu, tetapi juga harus diwujudkan melalui sikap dan amal nyata. Oleh karena itu, “Rajin, Terampil, dan Gembira: salah satu point dasa darma pramuka, bukan sekadar semboyan, tetapi sebuah sikap hidup untuk menjadi pribadi yang bermanfaat, berprestasi, dan senantiasa dekat dengan Allah SWT.

Dalam perspektif Islam, rajin, terampil, dan gembira merupakan nilai-nilai yang sangat ditekankan dan dianjurkan. Ketiga sifat ini tidak hanya dianggap sebagai kualitas pribadi yang baik, tetapi juga sebagai wujud ketaatan kepada Allah SWT dan ajaran Islam.

Rajin (Al-Jidd) dalam Islam berarti giat, tekun, dan tidak bermalas-malasan dalam melakukan segala sesuatu, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan duniawi.
Dalam surat Al-Insyirah ayat 5-6, Allah berfirman,

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Ayat ini menyiratkan bahwa kesulitan akan selalu ada, namun dengan semangat rajin dan pantang menyerah, kita akan mampu menghadapinya dan meraih kesuksesan.

Implementasi dari darma ini adalah Rajin dalam belajar, bekerja, beribadah, dan menjalankan kewajiban lainnya. Dalam semua aktivitas pun demikian berbagai macam ujian mental, pendidikan, serta kegiatan kegiatan yang menyita waktu. Itu semua adalah dalam rangka ketekunan, giat dalam melakukan kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Terampil (Al-Maharah) adalah berarti memiliki kemampuan dan kecakapan dalam melakukan suatu pekerjaan atau tugas. Terampil juga mencakup kemampuan untuk beradaptasi dan mencari solusi atas berbagai tantangan. Islam mendorong umatnya untuk menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan agar dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Rasulullah SAW bersabda:

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.Namun semua mumin itu baik”. (HR. Muslim no. 2664)
Kekuatan di sini tidak hanya fisik, tetapi juga mencakup kekuatan ilmu dan keterampilan. Implementasinya adalah mengasah kemampuan diri dalam bidang yang ditekuni, terus belajar dan mengembangkan diri, serta berani mencoba hal-hal baru. Dalam aktivitas apapun hal ini mesti dapat meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh dengan tujuan untuk beribadah melalui membantu orang lain, bergotong royong, dan hal hal yang lain yang positif untuk kebaikan dan kebermanfaatan masyarakat.

Gembira (As-Surur) dalam Islam bukan sekadar perasaan senang, tetapi juga sikap optimis, penuh semangat, dan syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah. Islam mengajarkan untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah dan tidak berputus asa dalam menghadapi cobaan. Al-Quran dan hadits banyak menyebutkan tentang pentingnya husnudzan (berprasangka baik) kepada Allah. Bersyukur atas segala nikmat, menghadapi masalah dengan sikap positif, dan menebarkan kebahagiaan kepada orang lain. Husnuzan, berbaik sangka kepada Allah Ta’ala lebih ditekankan lagi untuk dilakukan saat seseorang mendekati ajalnya.

Sahabat Jabir bin Abdillah ra. mengatakan:
سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ، قَبْلَ مَوْتِهِ بثَلَاثَةِ أَيَّامٍ يقولُ: لا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إلَّا وَهو يُحْسِنُ الظَّنَّ باللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
 “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (tiga hari menjelang wafatnya) mengatakan, “Janganlah seorang di antara kalian meninggal, kecuali dia telah berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim no. 2877)

Implementasi dari rajin terampil dan gembira, yakni, membiasakan menyusun jadwal dalam kegiatan sehari-hari. Tidak pernah bolos dari sekolah, kantor dan selalu hadir tepat waktu. Selain itu selalu riang gembira dalam melakukan berbagai kegiatan atau pekerjaan, sehingga menikmati dalam setiap prosesnya. Kegembiraan ini datang dari dalam hati, jadi ketika dalam aktivitas apapun harus membiasakan lisannya basah atau hatinya terpaut kepada Allah dengan berdzikir dalam hati (Dzikir khofi). Dengan itu insyallah hati akan tenang.
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
“ (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (Qs. Ar Ra`d:28)

Rajin mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, bekerja, dan beribadah; terampil membentuk pribadi yang mampu mengembangkan potensi dan memberikan manfaat bagi sesama; sedangkan gembira mengajarkan kita untuk menjalani setiap proses dengan penuh syukur, optimisme, dan keikhlasan. Ketiganya merupakan nilai penting dalam membangun pribadi yang seimbang, produktif, dan berakhlak mulia. Ketika kerajinan dilandasi niat ibadah, keterampilan digunakan untuk kemaslahatan, dan kegembiraan lahir dari rasa syukur kepada Allah SWT, maka setiap aktivitas kehidupan dapat menjadi jalan menuju keberkahan.

.Ketika dirimu berani untuk jujur, maka kamu akan kehilangan orang yang tidak pantas untukmu. (***)

  • Penulis: Rian Sutisna

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less