Pemkab Tasikmalaya Susun Strategi Terpadu Atasi Krisis Air Bersih
- account_circle Rian Sutisna
- calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tasikzone.co.id – Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menyiapkan langkah terpadu untuk menghadapi krisis air bersih dan ancaman kekeringan yang melanda sejumlah wilayah.
Strategi tersebut mencakup penanganan jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang guna memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi sekaligus meminimalkan risiko bencana lingkungan di masa mendatang.
Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Penanganan Kekeringan yang digelar di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya.
Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi, mengatakan fokus utama saat ini adalah memastikan distribusi air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan. Seluruh penyaluran bantuan air darurat dikoordinasikan oleh BPBD Kabupaten Tasikmalaya dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, BUMD, lembaga sosial, hingga sektor swasta.
“Kebutuhan air bersih untuk kondisi darurat harus menjadi prioritas utama. Semua bantuan dan distribusi air dikoordinasikan melalui BPBD agar penanganannya tepat sasaran dan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” ujar Asep, Jumat (7/8/2026).
Untuk solusi jangka menengah, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya berencana membangun sumur bor berkapasitas besar di setiap kecamatan. Program tersebut diusulkan masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan tahun 2026.
Menurut Asep, pembangunan sumur bor membutuhkan dukungan bersama antara pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Tasikmalaya melalui alokasi anggaran maupun pokok-pokok pikiran (pokir) dewan. Lokasi pembangunan akan disesuaikan dengan potensi sumber air tanah yang tersedia di masing-masing wilayah.
“Target kami setiap kecamatan memiliki sumur bor yang memadai dengan kapasitas yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat saat musim kemarau. Infrastruktur ini harus dirancang untuk jangka panjang dan benar-benar memberikan manfaat bagi warga,” katanya.
Selain mengandalkan pembiayaan daerah, Pemkab Tasikmalaya juga menjajaki kerja sama dengan lembaga kemanusiaan internasional. Saat ini usulan pembangunan sarana air bersih dari lima kecamatan telah diajukan kepada Qatar Charity dan beberapa titik lokasi telah memasuki tahap survei kelayakan.
Pemerintah berharap fasilitas sumur bor tersebut dapat mulai dimanfaatkan sebelum atau saat memasuki awal musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Oktober mendatang. Keberadaan sumur bor diharapkan menjadi cadangan sumber air ketika musim kemarau kembali terjadi pada tahun-tahun berikutnya.
Di sisi lain, Pemkab Tasikmalaya juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang kerap muncul saat masa transisi dari musim kemarau ke musim hujan. Para camat dan perangkat kewilayahan diminta aktif melakukan pemantauan lapangan untuk mengantisipasi pergerakan tanah dan potensi longsor.
Asep menjelaskan, kondisi tanah yang mengalami kekeringan dalam waktu lama cenderung menjadi rapuh dan rentan mengalami pergeseran ketika curah hujan mulai meningkat. Karena itu, langkah mitigasi harus dilakukan sejak dini agar risiko bencana dapat ditekan.
“Yang perlu diwaspadai bukan hanya saat kemarau, tetapi juga ketika hujan mulai turun. Tanah yang retak dan gembur akibat kekeringan berpotensi menimbulkan bencana. Karena itu kami meminta seluruh aparat kewilayahan lebih aktif melakukan pemantauan,” ujarnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya menitikberatkan perhatian pada upaya konservasi lingkungan melalui gerakan penanaman pohon secara masif. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kawasan resapan air, memperkuat daerah tangkapan air, serta mendukung kelestarian lingkungan.
Selain itu, pemerintah daerah juga memperkuat koordinasi dengan Perum Perhutani KPH Tasikmalaya dan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah VI Tasikmalaya melalui program Tasik Hejo. Kerja sama tersebut diarahkan untuk menjaga kawasan hulu dan daerah resapan air sekaligus mencegah praktik penebangan liar yang dapat memperparah kerusakan lingkungan.
Melalui strategi berjenjang tersebut, Pemkab Tasikmalaya berharap penanganan kekeringan tidak hanya berfokus pada bantuan darurat, tetapi juga mampu menciptakan ketahanan air dan lingkungan yang berkelanjutan bagi masyarakat. (***)
- Penulis: Rian Sutisna











