Breaking News
light_mode
Beranda » News » Polisi Mediasi Ibu yang Viral di SPBU Cipatujah, Antrean Jeriken Dipastikan Bukan Penimbunan

Polisi Mediasi Ibu yang Viral di SPBU Cipatujah, Antrean Jeriken Dipastikan Bukan Penimbunan

  • account_circle Rian Sutisna
  • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tasikzone.co.id – Video seorang ibu muda yang meluapkan kekecewaannya di SPBU Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, viral di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi setelah yang bersangkutan tidak mendapatkan bahan bakar meski mengaku telah tiga kali mengantre.

Dalam video yang beredar, ibu tersebut terlihat emosi karena kehabisan bensin saat hendak membawa anaknya yang sedang sakit untuk berobat ke Kota Tasikmalaya. Ia mengaku sudah beberapa kali mengantre, namun tetap tidak memperoleh BBM akibat stok yang telah habis.

Kapolsek Cipatujah Kompol Supian membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, ibu yang bersangkutan memang sempat masuk ke dalam antrean kendaraan di SPBU, namun kemudian keluar dari antrean sebelum kembali lagi beberapa waktu kemudian.

“Yang bersangkutan sempat mengantre, kemudian keluar dari antrean. Saat kembali lagi ke SPBU, stok bahan bakar sudah habis,” ujar Kompol Supian, Selasa (11/8/2026).

Menanggapi viralnya video tersebut, pihak kepolisian segera melakukan mediasi antara pengelola SPBU dan ibu yang bersangkutan. Hasil mediasi menunjukkan kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.

“Kami telah mempertemukan kedua belah pihak dan hasilnya sudah saling memahami serta saling memaafkan,” kata Supian.

Ia menjelaskan, pada saat kejadian memang terdapat antrean jeriken berisi bahan bakar di area SPBU. Namun, jeriken tersebut sebagian besar milik nelayan yang membeli BBM untuk kebutuhan operasional melaut.

Menurutnya, hingga saat ini kawasan Cipatujah belum memiliki SPBU khusus nelayan. Kondisi tersebut membuat para nelayan memanfaatkan SPBU yang ada untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar.

“Mayoritas jeriken yang terlihat merupakan milik nelayan. Mereka membeli BBM untuk kebutuhan melaut karena belum tersedia SPBU khusus nelayan di wilayah ini,” ujarnya.

Selain nelayan, sebagian jeriken juga diketahui milik pedagang bensin eceran dari sejumlah daerah pelosok yang belum memiliki akses SPBU. Bahkan, ada pembeli yang datang dari wilayah Bojonggambir untuk memasok kebutuhan BBM eceran di daerahnya.

Kompol Supian menegaskan antrean jeriken tersebut bukan merupakan praktik penimbunan bahan bakar. Ia memastikan seluruh pembelian dilakukan untuk kebutuhan usaha dan aktivitas masyarakat setempat.

“Narasi yang menyebut adanya penimbunan BBM tidak benar. Sebagian besar untuk kebutuhan nelayan dan sebagian lainnya untuk pasokan penjual eceran di wilayah yang belum memiliki SPBU,” tegasnya. (***)

  • Penulis: Rian Sutisna

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less