Satgas MBG Kota Tasikmalaya Dorong Standar Keamanan Pangan di Dapur MBG
- account_circle Rian Sutisna
- calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
tasikzone.co.id – Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Makan Bergizi Gratis (MBG) Kota Tasikmalaya terus mendorong peningkatan standar keamanan pangan di sejumlah dapur MBG. Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan dan sertifikasi guna memastikan makanan yang diterima masyarakat aman, berkualitas, serta meminimalkan risiko gangguan keamanan pangan.
Ketua Satgas MBG Kota Tasikmalaya, Ade Hendar, menegaskan bahwa pengelolaan keamanan pangan tidak cukup hanya dengan mengikuti pelatihan. Menurutnya, penerapan standar harus mencakup seluruh aspek, mulai dari kelayakan fasilitas hingga kompetensi tenaga kerja.
“Tidak hanya sekadar pelatihan, tetapi juga memastikan fasilitas dan keterampilan tenaga kerja memiliki standar yang jelas. Standar keamanan pangan bukan pilihan, melainkan kewajiban mutlak,” ujar Ade Hendar di sela-sela kegiatan training dan sertifikasi Dapur MBG yang digelar di Hotel Cordela Tasikmalaya, Sabtu (22/8/2026).
Ia juga mengingatkan para pengelola dapur MBG agar selektif dalam memilih lembaga sertifikasi. Lembaga yang dipilih harus memiliki kualifikasi, kompetensi, serta akreditasi yang jelas dan tidak sekadar menerbitkan sertifikat HACCP maupun ISO tanpa proses pelatihan dan penerapan standar yang memadai.
Narasumber pelatihan, Lucky Permana, menjelaskan bahwa materi pelatihan mencakup sistem keamanan pangan secara menyeluruh, mulai dari proses penerimaan bahan baku hingga makanan sampai kepada penerima.
“Pelatihan ini berlangsung menyeluruh dari hulu sampai hilir. Mulai dari keamanan bahan baku, proses pengolahan, pemorsian, hingga distribusi makanan,” kata Lucky.
Ia menjelaskan, salah satu aspek penting dalam sistem manajemen keamanan pangan adalah penerapan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) atau analisis bahaya dan pengendalian titik kritis.
“Detailnya cukup banyak. Sejak bahan makanan datang, bagaimana proses pengolahannya, pemorsian, sampai distribusi makanan, semuanya harus diperhatikan,” jelasnya.
Selain proses pengolahan, tata letak bangunan dapur dan ketersediaan fasilitas juga menjadi bagian penting dalam pemenuhan standar keamanan pangan. Pengaturan tersebut diperlukan untuk meminimalkan risiko terjadinya kontaminasi bakteri selama proses produksi makanan.
“Bagaimana mengatur suhu ruangan, peralatan apa saja yang harus tersedia, hingga prosedur pengolahan. Semua detail tersebut tidak boleh terlewat,” ujarnya.
Menurut Lucky, standar keamanan pangan juga harus diterapkan hingga makanan berada di tangan penerima. Pengelola dapur perlu memahami batas waktu dan kondisi makanan agar kualitas serta keamanannya tetap terjaga selama proses distribusi.
“Terakhir adalah standar prosedur ketika makanan sudah berada di tangan penerima. Ada batas waktu tertentu agar makanan tidak mengalami perubahan kualitas yang perlu diketahui bersama,” katanya.
Ia menambahkan, seluruh standar yang telah diberikan dalam pelatihan harus benar-benar diterapkan oleh pengelola dapur. Dengan demikian, sertifikasi HACCP maupun ISO 22000 yang diperoleh dapat menjadi bukti bahwa sistem manajemen keamanan pangan telah dijalankan secara nyata.
Sementara itu, Bidang Program Satgas MBG Kota Tasikmalaya, Deni Diyana, menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan tersebut diikuti oleh 12 pengelola dapur MBG dari sejumlah wilayah di Jawa Barat.
“Pesertanya terdiri dari dua pengelola dapur dari Kota Tasikmalaya, tujuh dari Kabupaten Tasikmalaya, dua dari Pangandaran, dan satu dari Ciamis,” ungkap Deni.
Deni memastikan, para trainer yang terlibat dalam kegiatan tersebut berasal dari lembaga yang telah memiliki sertifikasi dan akreditasi resmi.
“Semua trainer berasal dari lembaga yang tersertifikasi dan terakreditasi secara resmi. Ini merupakan bagian dari ikhtiar kami agar makanan yang diterima masyarakat benar-benar aman dan berkualitas,” pungkasnya. (***)
- Penulis: Rian Sutisna











