Breaking News
light_mode
Beranda » Eksis » UNITAS atau IAIT: SEDIH atau SENANG

UNITAS atau IAIT: SEDIH atau SENANG

  • account_circle Rian Sutisna
  • calendar_month 10 jam yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Muhammad Rifai
Aliansi Mahasiswa Unitas

Perubahan Institut Agama Islam Tasikmalaya (IAIT) menjadi Universitas Islam Tasikmalaya (UNITAS) semestinya menjadi kabar baik. Perubahan status perguruan tinggi tentu dapat membuka ruang pengembangan akademik yang lebih luas.

Namun, sebagai mahasiswa, kita tidak boleh berhenti pada rasa bangga karena nama kampus berubah. Justru setelah perubahan itu, pertanyaan kritis harus semakin keras: Apakah kampus benar-benar naik kelas, atau hanya papan namanya yang naik kelas?

Kritik ini tidak ditujukan kepada pembangunan masjid. Tidak pula ditujukan kepada individu tertentu. Sasaran kritiknya adalah kebijakan, prioritas pembangunan, dan tata kelola pengembangan kampus yang harus mampu menjawab kebutuhan nyata mahasiswa.

Sebab ada ketimpangan yang sulit untuk tidak dipertanyakan. Di satu sisi, kampus sedang membangun citra sebagai universitas. Di sisi lain, mahasiswa masih berhadapan dengan persoalan fasilitas yang sangat mendasar. Kursi kayu masih digunakan dalam proses perkuliahan. Tidak setiap ruang kelas memiliki infocus. Penggunaan ruang kelas pun dalam kondisi tertentu harus bergantian.

Pertanyaannya:
Mengapa peningkatan status kelembagaan tidak otomatis diikuti peningkatan kualitas fasilitas pembelajaran ?
Menjadi universitas seharusnya berarti menaikkan standar, bukan sekadar menaikkan nomenklatur. Lebih jauh lagi, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) masih berstatus akreditasi C.

Ini bukan untuk mempermalukan program studi atau civitas akademika yang ada di dalamnya. Justru status tersebut harus dibaca sebagai pekerjaan rumah kelembagaan. Kalau kampus berani mengambil langkah besar untuk menjadi universitas, maka keberanian yang sama harus ditunjukkan dalam memperbaiki program studi yang kualitas akreditasinya masih perlu ditingkatkan.

Jangan hanya berani mengubah nama institusi. Beranilah juga mengubah kualitas institusi. Masalahnya Bukan Masjid, Tetapi Prioritas Pembangunan masjid tentu patut diapresiasi. Sebagai kampus yang memiliki identitas Islam, keberadaan masjid merupakan bagian penting dari kehidupan sivitas akademika.

Tetapi kritiknya harus ditempatkan secara proporsional: Apakah pembangunan simbolik dan fisik sudah berjalan seimbang dengan pembangunan akademik ?

Mahasiswa membutuhkan tempat ibadah, tetapi mahasiswa juga membutuhkan ruang belajar yang layak. Mahasiswa membutuhkan gedung yang terus berkembang, tetapi juga membutuhkan fasilitas pembelajaran yang tersedia ketika proses perkuliahan berlangsung.

Mahasiswa membutuhkan identitas kampus yang kuat, tetapi identitas tersebut harus dibangun melalui kualitas, bukan hanya melalui perubahan nama. Karena itu, persoalannya bukan “mengapa kampus membangun masjid?”

Persoalannya adalah:
“Apakah kebutuhan dasar mahasiswa sudah menjadi prioritas yang sama seriusnya?” Jika belum, maka di sinilah manajemen kampus perlu melakukan evaluasi. Kampus Kalah Populer dari Kafe di Depannya?

Ada ironi lain yang seharusnya menjadi bahan introspeksi. Kafe yang berada di depan kampus justru lebih dikenal dan lebih mudah diingat oleh sebagian masyarakat dibandingkan kampus itu sendiri. Padahal, kampus sudah berdiri lebih dahulu. Tentu ini bukan kesalahan kafe tersebut. Justru kafe tersebut berhasil membangun daya tarik dan identitasnya sendiri.

Yang patut dipertanyakan adalah:
Mengapa institusi pendidikan tinggi dengan mahasiswa, dosen, alumni, kegiatan akademik, penelitian, dan berbagai potensi intelektual justru belum mampu membangun daya kenal yang kuat di tengah masyarakat? Ini menjadi kritik terhadap strategi branding, komunikasi publik, dan kemampuan kampus membangun elektabilitas kelembagaan.

Universitas seharusnya bukan hanya dikenal karena lokasinya.
Universitas harus dikenal karena prestasinya.
Bukan hanya karena gedungnya.
Tetapi karena kualitas akademiknya.
Bukan hanya karena nama Islam di belakangnya.
Tetapi karena kontribusinya kepada masyarakat.

Jangan Sampai Ambisi Lebih Cepat daripada Kesiapan, Perubahan IAIT menjadi UNITAS seharusnya menjadi momentum pembenahan, bukan sekadar momentum perayaan.

Manajemen kampus harus berani membuka evaluasi:

– Apa prioritas utama pengembangan kampus?
– Bagaimana peningkatan fasilitas pembelajaran mahasiswa?
– Bagaimana penyelesaian persoalan keterbatasan ruang kelas?
– Bagaimana memastikan fasilitas seperti infocus tersedia secara memadai?
– Bagaimana strategi meningkatkan program studi yang masih berakreditasi C?
– Bagaimana meningkatkan kualitas dan daya saing lulusan?
– Bagaimana membangun elektabilitas kampus di tengah masyarakat?
– Dan yang paling penting, sejauh mana mahasiswa dilibatkan dalam menentukan kebijakan pengembangan kampus?

Karena mahasiswa bukan sekadar angka dalam laporan penerimaan mahasiswa baru.
Mahasiswa adalah pihak yang setiap hari mengalami langsung kualitas kebijakan kampus.
Maka jangan jadikan kritik mahasiswa sebagai gangguan terhadap pembangunan kampus.
Justru kritik mahasiswa harus dibaca sebagai alat kontrol agar pembangunan tidak kehilangan arah.
Kami tidak sedang menolak UNITAS.
Kami justru ingin UNITAS benar-benar menjadi universitas.

Karena itu, manajemen kampus harus membuktikan bahwa perubahan status bukan sekadar pencapaian administratif, tetapi benar-benar membawa perubahan kualitas yang dirasakan mahasiswa. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengatakan: “Kita sudah menjadi universitas.”

Sementara mahasiswa masih bertanya: “Kapan fasilitas kami ikut menjadi standar universitas?”

Jangan sampai papan nama sudah berubah.
Gedung terus dibangun.
Seremoni terus dilakukan.
Tetapi persoalan dasar mahasiswa tetap sama.
Karena universitas bukan sekadar tentang seberapa tinggi nama yang dipasang di gerbang.
Universitas adalah tentang seberapa tinggi kualitas yang mampu dipertanggungjawabkan oleh pengelolanya.
Dan jika nama IAIT sudah berubah menjadi UNITAS, maka sudah saatnya standar kualitas, fasilitas, tata kelola, dan keberpihakan terhadap kebutuhan mahasiswa juga benar-benar berubah.
Nama boleh naik kelas.
Jangan sampai mahasiswa justru masih merasakan kelas yang sama.

  • Penulis: Rian Sutisna

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less