Breaking News
light_mode
Beranda » News » Wakil Ketua DPRD Pangandaran Serap Aspirasi Warga, Persoalan Sampah dan Air Pertanian Jadi Sorotan

Wakil Ketua DPRD Pangandaran Serap Aspirasi Warga, Persoalan Sampah dan Air Pertanian Jadi Sorotan

  • account_circle Driez
  • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pangandaran, Tasikzone.com – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, Dede Sutiswa Nataatmaja, memanfaatkan masa reses persidangan II tahun 2026 untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.

Kegiatan yang berlangsung di Dusun Cikubang, Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Jumat (8/5/2026), dihadiri puluhan warga Muslimatan serta perwakilan masyarakat dari sejumlah desa di wilayah Kecamatan Parigi.

Dalam dialog tersebut, warga menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi, terutama terkait pengelolaan sampah dan ketersediaan air bagi lahan pertanian.

Kedua isu tersebut menjadi perhatian utama karena dinilai sangat berpengaruh terhadap kualitas lingkungan dan keberlangsungan sektor pertanian.

Dede menegaskan bahwa reses merupakan wadah penting bagi anggota legislatif untuk mendengar langsung kebutuhan masyarakat, sehingga kebijakan dan program pembangunan yang disusun pemerintah daerah dapat lebih tepat sasaran.

“Melalui reses ini kami dapat mengetahui secara langsung persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Seluruh aspirasi yang disampaikan akan menjadi bahan perjuangan dalam pembahasan program pembangunan daerah,” katanya.

Persoalan sampah menjadi salah satu keluhan yang paling banyak disampaikan warga. Masyarakat menilai volume sampah rumah tangga terus meningkat, sementara layanan pengangkutan sampah belum mampu menjangkau seluruh wilayah secara optimal.

Warga berharap pemerintah menambah armada pengangkut sampah, baik berupa truk maupun bentor, agar pelayanan kebersihan dapat menjangkau kawasan permukiman hingga gang-gang sempit.

Selain itu, warga juga mengusulkan penambahan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang representatif.

Keterbatasan fasilitas pembuangan sampah saat ini dinilai menjadi salah satu penyebab munculnya titik-titik pembuangan liar di sejumlah lokasi, termasuk di tepi jalan dan bantaran sungai.

Sebagai langkah pengurangan sampah dari sumbernya, masyarakat turut mengajukan bantuan alat pengolah sampah organik menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan oleh warga maupun kelompok tani.

Di sektor pertanian, para petani menyampaikan kekhawatiran terhadap potensi kekeringan yang kerap terjadi saat musim kemarau. Mereka menilai distribusi air irigasi masih belum merata sehingga berdampak pada produktivitas lahan pertanian.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, warga mengusulkan normalisasi embung dan penampungan air desa agar kapasitas tampung air meningkat serta mampu mendukung kebutuhan irigasi ketika musim kemarau tiba.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Dede memastikan seluruh aspirasi masyarakat telah dicatat dalam laporan resmi reses dan akan diperjuangkan dalam pembahasan program pembangunan daerah.

“Persoalan sampah berkaitan langsung dengan kesehatan lingkungan masyarakat, sementara ketersediaan air menjadi faktor penting bagi keberlangsungan pertanian. Karena itu, kami akan mendorong agar usulan-usulan ini masuk dalam prioritas pembahasan APBD Perubahan maupun APBD tahun anggaran berikutnya, sehingga pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” tegasnya. (driez)

  • Penulis: Driez
  • Editor: Rian Sutisna

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less