Breaking News
light_mode
Beranda » Eksis » Kibar Budaya 2026 Angkat Eksistensi Anyaman Bambu Situ Beet yang Kian Tergerus Zaman

Kibar Budaya 2026 Angkat Eksistensi Anyaman Bambu Situ Beet yang Kian Tergerus Zaman

  • account_circle Rian Sutisna
  • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

tasikzone.co.id – Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) akan menggelar Kibar Budaya 2026 di Kampung Situ Beet, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, pada 25 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi upaya mengangkat kembali eksistensi sentra kerajinan anyaman bambu yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Tasikmalaya.

Situ Beet dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil kerajinan anyaman bambu yang pernah berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan warga. Namun, seiring perkembangan wilayah dan perubahan sosial ekonomi masyarakat, keberlangsungan kerajinan tradisional tersebut menghadapi berbagai tantangan.

Salah satu persoalan yang kini dihadapi para perajin adalah semakin terbatasnya ketersediaan bahan baku bambu. Alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman dan berbagai aktivitas pembangunan mengurangi keberadaan rumpun bambu yang sebelumnya mudah ditemukan di sekitar wilayah tersebut.

Kondisi itu memaksa para perajin mendatangkan bahan baku dari daerah lain dengan biaya yang lebih tinggi. Akibatnya, biaya produksi meningkat dan berdampak pada keberlanjutan usaha kerajinan yang selama ini menjadi mata pencaharian masyarakat.

Selain persoalan bahan baku, regenerasi perajin juga menjadi tantangan serius. Minat generasi muda untuk menekuni profesi sebagai pengrajin anyaman bambu terus menurun. Banyak anak muda memilih pekerjaan lain yang dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi dibandingkan kerajinan tradisional.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui kampanye atau ajakan mencintai tradisi. Keberlanjutan budaya juga memerlukan dukungan nyata yang mampu meningkatkan kesejahteraan para pelaku budaya agar tradisi tetap hidup dan berkembang.

Untuk menjaga keberlangsungan sentra anyaman bambu Situ Beet, diperlukan dukungan berbagai pihak, mulai dari penyediaan bahan baku, akses pembiayaan, penguatan pemasaran, inovasi produk, hingga program pendidikan dan regenerasi perajin.

Melalui Kibar Budaya 2026, DKKT berupaya membuka ruang apresiasi sekaligus meningkatkan kesadaran publik terhadap potensi dan tantangan yang dihadapi perajin anyaman bambu Situ Beet. Festival ini diharapkan menjadi momentum kolaborasi antara pemerintah, pelaku budaya, akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya lokal.

Berbagai kegiatan akan meramaikan Kibar Budaya 2026, di antaranya pertunjukan seni tradisional, musik, tari, teater, sastra, seni rupa, serta penampilan karya kreatif masyarakat Mangkubumi yang merepresentasikan kekayaan budaya Kota Tasikmalaya.

Selain menjadi ajang pertunjukan seni, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda serta mendorong keterlibatan mereka dalam upaya pelestarian budaya daerah.

DKKT menilai Situ Beet bukan hanya menyimpan sejarah panjang kerajinan anyaman bambu, tetapi juga menjadi simbol penting pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Melalui pelestarian anyaman bambu, masyarakat tidak hanya menjaga sebuah produk kerajinan, tetapi juga merawat pengetahuan, keterampilan, dan memori kolektif yang telah diwariskan secara turun-temurun di Tasikmalaya. (***)

  • Penulis: Rian Sutisna

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less