Eksistensi Nilai Patriot Yang Sopan Dan Kesatria Dalam Membentuk Kepemimpinan Generasi Muda Indonesia
- account_circle Rian Sutisna
- calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh. Rifyal Luthfi MR
Tasikzone.co.id – Bangsa Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, berakhlak mulia, serta berjiwa kepemimpinan. Salah satu nilai luhur yang menjadi fondasi pembentukan karakter tersebut terdapat dalam Dasa Darma Pramuka, yaitu “Patriot yang Sopan dan Kesatria.” Nilai ini mengajarkan pentingnya mencintai tanah air, menjunjung tinggi etika dan kesantunan, serta memiliki keberanian untuk membela kebenaran, bertanggung jawab, dan mengutamakan kepentingan bersama. Oleh karena itu, eksistensi nilai patriot yang sopan dan kesatria menjadi sangat relevan sebagai landasan dalam membentuk kepemimpinan generasi muda Indonesia yang berintegritas, berwawasan kebangsaan, dan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.
Patriot berarti orang yang mencintai, membela, dan mendukung negaranya dengan penuh pengabdian. Patriot juga memiliki semangat tinggi, sikap, dan perilaku cinta tanah air. “ Hubbul wathon minal iman” (cinta tanah air sebagian dari pada iman). Ingat resolusi jihad yang disampaikan oleh hadratu syekh Hasyim Asyari tokoh pendiri Ormas terbesar di indonesia Nahdlatul Ulama (NU) beliau mengemukakan dan berfatwa bahwa membela tanah air ketika dijajah oleh belanda merupakan jihad fi sabilillah. Begitupun yang disampaikan oleh tokoh ormas terbesar Muhammadiyah Ahmad Dahlan
Dalam sudut pandang kehidupan maka menjadikan tanah air sebagai pijakan dan sebagai ibu pertiwi untuk dihargai dan hormati termasuk dibela sampai titik darah penghabisan itulah tugas sang patriot yang wajib dijalankan. Begitupun konteks kesatria yang sopan yakni selalu menjaga tata kesopanan dalam kehidupan keseharian, dalam implementasinya adalah bahwa ketika kita sebagai pimpinan maka etika seorang pemimpin yang harus dikedepankan dan dijunjung tinggi.
Hal ini sesuai dengan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 pasal 1 yang menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Acuan tersebut adalah bagian dari sikap sopan yang harus dimunculkan dalam pengkaderan seorang Pramuka
Jiwa kesatriapun tidak terlepas dari pentingnya bagi generasi muda sebagaimana sebuah kisah bahwa Sesungguhnya Rasulullah saw. adalah sebaik-baik manusia yang memiliki sifat mulia ini. Dengan jiwa patriotisme ini Rasulullah berhasil dalam menghadapi umatnya yang diabadikan dalam al-Quran surah Ali-`Imran ayat 159:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”(Qs. Ali-`Imran: 159)
Anas ibnu Mâlik ra. berkata, “Nabi SAW. adalah manusia paling baik, paling dermawan, dan paling pemberani. Pada suatu malam, penduduk Madinah dikejutkan oleh sebuah suara. Mereka pun segera menuju ke arah suara itu. Tiba-tiba, Nabi ra. datang dari arah suara itu menghadap mereka. Beliau ternyata telah mendahului semua orang menuju suara itu. Beliau berseru, “Tenang, tenang!” Beliau berada di atas kuda milik Abu Thalhah, kuda itu tanpa pelana, di punggung beliau terdapat sebilah pedang. Beliau bersabda, “Aku melihat ternyata itu hanya suara laut.” [HR. Al-Bukhâri dan Muslim]
Dalam peristiwa-peristiwa genting, beliau menampakkan keberanian dan kesatriaan yang tidak pernah terbayangkan. Dalam perang Hunain, ketika orang-orang musyrik menang diawal pertempuran, dan mereka telah mengepung Rasulullah SAW., beliau pun turun dari kuda dan memerangi mereka sambil berseru, “Akulah Nabi, bukan dusta. Akulah putra Ibnu Abdul Muthalib.” Sehingga Al-Barâ’ ra. berkata, “Belum pernah terlihat ada manusia seberani beliau pada hari itu.”
Dalam perang Uhud, ketika banyak kaum muslimin yang mundur saat tersebar berita beliau terbunuh, dan orang-orang musyrik mencari-cari beliau untuk mereka bunuh, beliau justru menampilkan diri di tengah manusia sambil berteriak, “Akulah Rasulullah”. Walaupun teriakan itu pasti akan menarik perhatian kaum musyrikin ke arah beliau, tetapi itulah keberanian dan kekesatriaan hakiki dalam bentuknya yang paling menakjubkan.
Kita juga dapat melihat teladan mulia dalam hal keberanian dan kekesatriaan dari Nabi Musa as. Ia meninggalkan negerinya menuju Madyan dengan penuh kesedihan dan lelah luar biasa. Akan tetapi, dalam kondisi seperti itu, diceritakan oleh Allah SWT., dalam firman-Nya (yang artinya): “Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternak mereka), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menambatkan ternak mereka. Musa bertanya, ‘Apakah maksud kalian berbuat begitu?’ Kedua wanita itu menjawab, ‘Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami) sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternak mereka), sedangkan bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut usia. Maka Musa pun memberi minum ternak itu untuk (menolong) mereka berdua, kemudian ia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku’.” [QS. Al-Qashash: 23-24]
Dalam kehidupan kita bahwa jiwa sopan dan kesatria ini diimplementasikan melalui gaya kepemimpinan melalui prinsip sistem among yang di gegas oleh Ki hajar dewantara bapak pendidikan nasional, yakni ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani.
Implementasi sistem yang pertama ing ngarso sung tulodo adalah bahwa “Ing Ngarsa” artinya di depan. “Sung” berasal dari kata “asung” yang berarti memberi. Dan “Thulada” bermakna teladan atau contoh yang baik. Sehingga secara harfiah, Ing Ngarsa Sung Tuladha bermakna siapa yang di depan haruslah memberi contoh yang baik. Contohnya dalam lingkungan keluarga, orang tua adalah pemimpin yang ada di depan, karena itu ia harus memberikan contoh teladan bagi anak-anaknya. Begitu juga dalam dunia pendidikan, kepala atau pemimpin sebagai pucuk pimpinan dan pengarah serta pendidik bukan hanya sekedar mengajarkan keilmuan dan keterampilan. Melainkan mereka harur memberikan contoh dan suri teladan kepada para anggotanya.
Prinsip kedua dalam sistem among adalah Ing Madya Mangun Karsa. “Ing Madya” berarti “di tengah”, “mangun” berarti membangun atau memberikan, dan “Karsa” dari kata prakarsa berarti ide atau gagasan. Jadi Ing Madya Mangun Karsa berarti yang di tengah harus memberikan ide, gagasan. Maknanya sebagai seorang pimpinan yang berada di tengah-tengah muridnya harus merangsang terciptanya ide dan gagasan-gagasan.
Pembina dan guru, orang tua juga harus menjalin komunikasi yang baik dengan anak dan anggotanya. Hubungan komunikasi yang baik ini akan membuat anggota terbuka dalam menyampaikan masalah dan pemikirannya. Dengan begitu setiap masalah dapat dipecahkan secara bersama-sama.
Prinsip ke tiga yakni, Tut Wuri Handayani yang ditulis dalam lambang Pendidikan Nasional memiliki makna ‘yang di belakang harus memberikan dorongan. Berdasarkan kodratnya, anak-anak memiliki kemampuan atau bakat yang berbeda-beda. Hal inilah yang harus dipahami setiap pembina, pendidik dan orang tua agar bisa memfasilitasi, mendorong dan mengarahkan potensi anak untuk mencapai cita-citanya. Dalam pendidikan tentunya banyak keterampilan baik hard skill maupun soft skill untuk dimanfaatkan oleh generasi muda dalam rangka mengembangkan potensi yang mereka punya. Secara sederhana peneapan dilakukan melalui ikut serta dalam pertahanan bela negara, melindungi kaum yang lemah, belajar disekolah dengan baik serta ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan.
Rasulullah telah mengingatkan nasib anak-anak. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah, nabi mengingatkan:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ
“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani” (HR Bukhari dan Muslim).
Dari hadits tersebut bahwa orang tuanya atau yang mendidinya adalah pondasi utama untuk mengembangkan potensi anak dan Inilah pendidikan adab yang dimaksud, juga dalam dampaknya sebagai bukti bahwa dalam jiwa sopan dan kesatria ini mesti menjadi pondasi yang utama akhlak yang baik dan mulia sehingga menjadikan negara kita baldatun thoyyibatun warobun ghofur. (***)
- Penulis: Rian Sutisna

