Pentas Doea Tjerita Dari Tanah Djawa Hidupkan Semangat Berkesenian di Tasikmalaya
- account_circle Galih
- calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tasikzone.co.id – Komunitas Cermin menerima kunjungan Studi Klub Teater Bandung dalam pertunjukan bertajuk Doea Tjerita Dari Tanah Djawa yang digelar di Kota Tasikmalaya. Kegiatan tersebut mendapat antusias tinggi dari para pegiat seni, mahasiswa, hingga pelajar yang hadir menyaksikan pertunjukan teater tertua di Indonesia tersebut. Kamis (21/05/2026)
Perwakilan Komunitas Cermin, Asamsyah Timutiah menyampaikan, kegiatan seni pertunjukan seperti ini rutin digelar selama tiga tahun terakhir sebagai upaya menjaga geliat kesenian di Tasikmalaya.
“Kalau acara ini saya juga sudah tidak tahu yang ke berapa kali. Yang jelas selama tiga tahun terakhir, hampir setiap bulan selalu ada kegiatan di sini,” ujarnya.
Ia menilai kehadiran Studi Klub Teater Bandung sangat penting bagi perkembangan dunia teater di Tasikmalaya, terutama untuk para pegiat seni dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian.
“Apalagi malam ini menampilkan teater tertua di Indonesia. Saya rasa ini sangat penting untuk Tasikmalaya, khususnya para pegiat teater dan kesenian. Tadi juga terlihat banyak mahasiswa, siswa, hingga kelompok seni yang hadir,” katanya.
Asamsyah berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pemacu semangat generasi muda untuk terus berkarya di bidang seni dan teater.
“Mudah-mudahan ini bisa menjadi pemacu semangat berkesenian dan berkarya. Kalau teater tertua saja masih tetap hidup dan terus berkarya, masa kita yang muda berhenti berkarya,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam menciptakan ruang kesenian yang produktif bagi masyarakat.
“Pemerintah harus bisa memfasilitasi masyarakat dan menciptakan kondisi kesenian yang lebih produktif. Pemerintah punya tanggung jawab membangun masyarakat yang berkesenian dan berbudaya,” tambahnya.
Sementara itu, Pelaksana Harian Wali Kota Tasikmalaya, Diky Chandra mengapresiasi penampilan yang disuguhkan oleh Studi Klub Teater Bandung.
“Penampilannya luar biasa. Saya sampai cemburu melihat monolog sepanjang itu dengan pendalaman karakter yang begitu kuat dari teater tertua di Jawa Barat ini,” ujarnya.
Menurut Diky, pertunjukan tersebut juga menyampaikan pesan moral yang kuat mengenai kekuasaan, informasi, dan dampak dari berita bohong atau hoaks.
“Pertunjukan tadi menggambarkan bahwa kekuasaan bukan sesuatu yang harus digunakan untuk hal-hal buruk. Ini menjadi pelajaran bahwa kita tidak boleh langsung percaya terhadap hoaks atau informasi yang belum dipahami secara utuh,” katanya.
Ia menambahkan, masyarakat harus lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi.
“Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Ketika menerima berita atau informasi, harus dipahami dan dipelajari terlebih dahulu sebelum akhirnya disebarkan,” tandasnya.
Selain itu, Diky juga menyoroti pesan kemanusiaan dalam pertunjukan tersebut, bahwa jangan sampai ada pihak yang menjadi korban akibat perilaku atau tindakan orang lain.
“Pada dasarnya tidak ada manusia yang pantas menjadi korban. Maka mari jangan menjadi orang yang justru menjadi sumber lahirnya korban,” pungkasnya. (***)
- Penulis: Galih
- Editor: Rian Sutisna
