Generasi Muda Diajak Lestarikan Aksara Sunda Lewat Workshop Literasi
- account_circle Rian Sutisna
- calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tasikzone.co.id – ketua Paguyuban Pasundan Drs. H. Erry Purwanto, M.Si menghadiri Workshop Literasi Aksara Sunda yang digelar di Aula Wiradadaha Kantor Bappelitbangda Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (21/5/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap warisan leluhur Sunda.
Workshop tersebut diikuti para pelajar, pegiat budaya, hingga masyarakat umum yang antusias mempelajari cara membaca dan menulis Aksara Sunda.
Kang Erry, yang juga sekaligus Pembina Riungan Aksara Sunda, Drs. H. Erry Purwanto, M.Si menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya daerah di tengah perkembangan zaman dan arus digitalisasi yang semakin pesat.
Menurutnya, literasi Aksara Sunda bukan hanya sekadar pembelajaran bahasa, melainkan bagian dari upaya mempertahankan sejarah, filosofi, serta jati diri masyarakat Sunda.
“Literasi Aksara Sunda yang digagas hari ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kesadaran generasi muda agar kembali meneguhkan jati dirinya sebagai orang Sunda,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lahirnya komunitas Riungan Aksara Sunda Kabupaten Tasikmalaya yang diprakarsai Syawal merupakan bentuk kepedulian terhadap semakin menurunnya kemampuan masyarakat dalam membaca dan memahami Aksara Sunda.
“Kalau ditanya seberapa penting gerakan ini, tentu sangat penting. Gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap perkembangan Aksara Sunda yang semakin hari semakin menurun. Bahkan mungkin hanya sebagian kecil masyarakat yang masih bisa membaca Aksara Sunda,” katanya.
Karena itu, menurutnya, kehadiran komunitas tersebut diharapkan menjadi motor penggerak dalam mengajarkan cara membaca dan menulis Aksara Sunda secara berkelanjutan agar budaya tersebut tidak hilang di tanah Sunda.
“Ini harus terus dilakukan supaya Aksara Sunda tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Sunda,” tambahnya.
Dalam workshop tersebut, hadir tiga narasumber yang dinilai kompeten di bidangnya. Narasumber pertama, Dr. Ida Farida Ningrum, membahas sejarah perkembangan Aksara Sunda secara historis di tatar Sunda, termasuk penyebab kemunduran hingga kebangkitannya kembali.
Sementara pemateri kedua dari kalangan peneliti Universitas Padjadjaran (Unpad) memberikan pelatihan membaca dan menulis Aksara Sunda.
Adapun materi ketiga difokuskan pada penggunaan Aksara Sunda secara digital. Peserta diajarkan cara mengetik menggunakan huruf Sunda melalui perangkat digital agar aksara tersebut dapat terus berkembang mengikuti perkembangan teknologi modern. (***)
- Penulis: Rian Sutisna
